SUKU-suku yang tingal di Jayawijaya (Irian Jaya) tidak hanya dikenal tradisi perangnya di masa silam. Sejak dilahirkan, sebagian besar penduduk Jayawijaya yang hidup di pegunungan juga berperang melawan kedahsyatan alam untuk mempertahankan hidup sehari-hari. Pada kemurahan dan juga keganasan alam yang digeluti inilah mereka menggantungkan hidup, tanpa banyak bersentuhan dengan teknologi masa kini. Adaptasi dan inovasi mereka selama perjalanan ratusan tahun menggeluti kebutuhan pangan telah memunculkan ribuan jenis varietas umbi-umbian. Umbi-umbian yang mereka sebut hipere dibudidayakan dengan peralatan seadanya dan layaklah kalau mereka disebut pakar umbi-umbian.
Namun, belum lekang dari ingatan kejadian di tahun 1997, keganasan alam menimpa penduduk Jayawijaya. Wilayah yang luasnya 62.433 kilometer persegi dan terbagi ke dalam 28 kecamatan yang sebagian besar penduduknya hidup di lereng-lereng bukit yang sulit dijangkau ini, dilanda kekeringan panjang yang belum pernah dialami sebelumnya.
Bukan hanya kekeringan, kebakaran hutan yang menyusul kemudian semakin menambah penderitaan. Umbi-umbian penopang hidup sehari-hari mati, tidak mau tumbuh lagi. Sementara itu, tidak tersedia sumber pangan alternatif lainnya.
Seperti kabupaten-kabupaten di Indonesia pada umumnya, sektor pertanian masih menjadi penyumbang terbesar dalam perekonomian Jayawijaya. Bahkan pada tahun 1997 yang tertimpa bencana itu, sektor pertanian masih menyumbang sebesar 56,85 persen-turun 2 persen dari tahun sebelumnya-dari keseluruhan total kegiatan ekonomi.
Selama tiga tahun terakhir (1998-2000), pertanian membukukan angka di atas 60 persen dengan tahun 2000 tercatat 62,61 persen. Sebagian besar pertanian ini ditopang oleh tanaman bahan makanan, mencapai 58,29 persen. Total kegiatan ekonomi Kabupaten Jayawijaya tahun 2000 nilainya Rp 775,4 milyar.
Kaya akan potensi alam, namun Jayawijaya kurang beruntung dalam kenyataan hidup sehari-hari. Kegiatan ekonomi per kapita setiap tahunnya memegang rekor terendah dari 14 kabupaten/kota yang ada di seluruh Provinsi Irian Jaya. Tahun 1999, kegiatan ekonomi per kapita nilainya Rp 1,3 juta. Sedangkan Kabupaten Fakfak yang selalu di peringkat tertinggi membukukan angka Rp 43,8 juta.
Harapan untuk menambah kas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayawijaya selama ini, salah satunya digantungkan pada Lembah Baliem yang mengangkat nama Jayawijaya ke tingkat nasional maupun internasional. Lembah yang luasnya sekitar 45 kilometer persegi dengan ketinggian rata-rata 1.500 meter di atas permukaan laut dan berudara sejuk antara 15-29 derajat celcius ini menjadi andalan kuat pariwisata Kabupaten Jayawijaya.
Perang antarsuku di Lembah Baliem yang dulu selalu menimbulkan korban dan dendam, sudah lama tidak lagi terjadi. Perang sudah berubah menjadi pertunjukan perang-perangan bagi wisatawan dan memberi masukan bagi kas pemerintah kabupaten. Tontonan ini sekarang menjadi salah satu paket wisata tahunan setiap bulan Agustus dan dikemas dalam Festival Lembah Baliem.
Sayangnya, wisatawan mancanegara yang diharapkan semakin deras mengalir itu, kian tersendat. Isu tidak amannya Bumi Cenderawasih menjadi promosi buruk dan memukul telak ***** pariwisata. Arus wisatawan mancanegara turun drastis. Kalau pada festival tahun 1994 sebanyak 1.100 turis menghabiskan waktunya di Jayawija, tahun 2001 ini baru tercatat 70 wisatawan asing yang menikmati wisata budaya ini.
BERADA di kesejukan Lembah Baliem akan semakin pas bila ditemani sepoci kopi panas Wamena. Aroma dan cita rasanya yang khas membuat kopi Wanema tidak kalah dengan Toraja Coffee, Mandheiling Coffee maupuan Java Coffee yang sudah lebih dulu dikenal lidah bangsa Jepang, Eropa, dan Amerika Serikat.
Kopi Wamena dibudidayakan petani hanya dengan mengandalkan kesuburan tanah vulkanik, tanpa pupuk apa pun. Kopi yang diperkirakan mulai dikenal masyarakat Jayawijaya pada tahun 1956 melalui misionaris Eropa ini merupakan komoditas yang memberikan harapan.
Pada akhir tahun 2000, luas lahan tanaman kopi di Kabupaten Jayawijaya tercatat 3.076 hektar, yang merupakan hampir setengah (42,7 persen) dari luas total (6.208 hektar) areal perkebunan kopi Provinsi Irian Jaya. Perkebunan yang keseluruhannya milik rakyat ini tersebar di Kecamatan Tiom, Bokondini, dan Asologaima. Produksi kopi Jayawijaya yang juga diekspor ke Singapura, Jepang, dan Australia ini, besarnya 316,30 ton atau setara dengan hampir setengah produksi kopi provinsi yang besarnya 740,3 ton.
Bermacam jenis umbi-umbian yang ada di Jayawijaya juga merupakan potensi komoditas yang masih bisa dikembangkan. Untuk mendapatkan hasil yang maskimal, tidak ada salahnya melirik apa yang telah dikembangkan di Bandung.
Di bumi Jayawijaya juga tersimpan potensi tanaman rempah-rempah dan tanaman obat-obatan tradisional. Sayangnya, minat mengeksplorasi jenis tanaman ini belum tampak. Kalau Madura, Jawa, Kalimantan, dan Maluku mampu menjadikan tanaman obat-obatan sebagai salah satu komoditas daerah mereka, Jayawijaya seharusnya mampu mengembangkannya sebagai sumber pendapatan kas pemerintah daerah.
Tahun 2001 sudah akan berakhir. Selama tahun ini pemerintah pusat menyediakan dana sebesar Rp 3 milyar untuk mensubsidi ongkos angkut tujuh jenis kebutuhan pokok ke pedalaman Irian Jaya. Kabarnya bantuan itu tidak akan ada lagi di tahun 2002. Semuanya menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten.
daftar pustaka:
| www.infopapua.com/index.php?module=ContentExpress&file=index&func=display&ceid=29&meid=10 – 39k |



